ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, AKSIOLOGI DALAM FILSAFAT ILMU

PENDAHULUAN

Berfilsafat bukanlah monopoli para filsuf saja. Berfilsafat adalah menjadi perilaku setiap orang. Sadar atau tidak, kita masing-masing berfilsafat dengan suatu masalah fundamental dan menurut kita untuk memberi jawabannya secara konkret, baik dalam kedudukan kita sebagai individu maupun sebagai warga masyarakat. Filsafat diartikan sebagai suatu cara berpikir yang radikal dan menyeluruh, suatu cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya. Tak satupun hal yang bagaimanapun kecilnya terlepas dari pengamatan kefilsafatan. Tak ada suatu pernyataan yang bagaimanpun sederhananya yang kita terima begitu saja tanpa pengkajianyang seksama. Filsafat menanyakan segala sesuatu dari kegiatan berfikir kita dari awal sampai akhir seperti dinyatakan oleh Socrates, bahwa tugas filsafat yang sebenarnya bukanlah menjawab pertanyaan kita namun mempersoalkan jawaban yang diberikan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa berfilsafat sebagai manifestasi kegiatan intelektual yang telah meletakkan dasardasar paradigmatik bagai tradisi dalam kehidupan masyarakat ilmiah ala barat diawali oleh orang-orang Yunani kuno di abad ke-6 SM. Kelahiran filsafat tidak dirintis oleh dunia Timur, hal ini ditegakkan oleh Diogenes Leartius di tahun 200 yang kemudian diperkuat oleh Eduard Zeller dalam karyanya Grundriss der Geschichte der Grieschischen philosophie (1920), apa yang datang dari dunia Timur bukanlah filsafat melainkan ajaran-ajaran praksisterapan seperti ilmu perbintangan, ilmu pengobatan, ilmu hitung dan lain sebagainya.

Penegasan tersebut dapat kita pahami karena apa yang disebut ilmu pengetahuan diletakkan dengan ukuran, pertama pada dimensi fenomenalnya yaitu bahwa ilmu pengetahuan menampakkan diri sebagai masyarakat, sebagai proses dan sebagai produk. Kaidah-kaidah yang melandasinya, sebagaimana dikatakan oleh Robet Merton adalah universalisme, komunalisme, dis-interestedness dan skeptisme yang terarah dan teratur (organised scepticism). Kedua pada dimensi stukturalnya, yaitu bahwa ilmu pengetahuan harus terstruktur atas komponen-komponen, objek sasaran yang hendak diteliti (Gegantand), yang diteliti atau dipertanyakan tanpa mengenal titik henti atas dasar motif dan tata cara tertentu, sedangkan hasil temuannya diletakkan dalam satu kesatuan sistem.

Pada saat kelahirannya, ilmu pengetahuan yang identik dengan filsafat mempunyai corak mitologis dengan mana segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada diterangkan. Berbagai macam kosmogoni menjelaskan bagaimana kosmos dengan berbagai aturannya terjadi dan dengan teogoninya diuraikan peranan para dewa yang merupakan unsur penentu terhadap segala sesuatu yang ada. Bagaimana corak mitologik ini telah mendorong upaya manusia untuk “berani’ menerobos lebih jauh dunia pergejalaan, untuk mengetahui adanya sesuatu yang eka, tetap, abadi, dibalik yang bhineka, berobah dan sementara.

Ontologi ilmu meliputi ilmu itu, apa hakekat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak lepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagaimana (yang) “ada” itu (being, Sein, het, zijn). Faham monisme yang terpecah menjadi idealisme atau spiritualisme, faham meterialisme, dualisme, pluralisme dengan berbagai nuansanya, merupakan faham ontologik yang pada akhirnya menentukan pendapat bahkan “keyakinan”kita masing-masing mengenai apa dan bagaimana (yang) “ada: sebagaimana manifestasi kebenaran yang kita cari.

Epistemologi ilmu, meliputi sumber, sarana dan tata cara menggunakan sarana tersebut untuk mencapai pengetahuan (ilmiah). Perbedaan mengenai pilihan landasan ontologik akan dengan sendirinya mengakibatkan perbedaan dalam menentukan sarana yang akan kita pilih. Akal (Verstand), akal budi (vernunft), pengalaman atau kombinasi antara akal dan pengalaman, institusi, merupakan sarana yang dimaksud dalam epistemologi, sehingga dikenal adanya model-model epistemologi seperti, rasionalisme, empirisme, kritisime atau rasionalisme kritis, positivisme, fenomenologi dengan berbagai variasinya, ditunjukan pula bagaimana kelebihan dan kelemahan sesuatu model epistemologi beserta tolak ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah) itu sperti teori koherensi, pragmatis, dan teori intersubjektif.

Aksiologi meliputi nilai-nilai (values) yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan sebagaiman kita jumpai dalam kehidupan kita yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, kawasan simbolik ataupun fisik materil. Lebih dari itu nilai-nilai juga ditunjukan oleh aksiologi ini sebagai suatu conditio sine quanon yang wajib dipatuhi dalam kegiatan kita, baik dalam melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu. Dalam perkembangan filsafat ilmu juga mengarahkan pada strategi pengembangan ilmu, yang menyangkut etik dan heuristik, bahkan sampai pada dimensi kebudayaan untuk menangkap tidak saja kegunaan atau manfaat ilmu, akan tetapi juga arti maknanya bagi kehidupan umat manusia.

Filsafat ilmu bertugas memberi landasan filosofik untuk memahami berbagai konsep dan teori sesuai disiplin ilmu, sampai membekalkan kemampuan untuk membangun teori ilmiah, sehingga berwawasan luas, ada keterbukaan dan dapat saling memahami alur fikir ilmiah yang berbeda-beda.

PEMBAHASAN

Ontologi

Ontologi seringkali diidentifikasikan dengan metafisika, yang juga disebut dengan proto-filsafat atau filsafat yang pertama. Persoalan tentang ontologi menjadi pembahasan yang utama dalam bidang filsafat, yang membahas tentang realitas. Realitas adalah kenyataan yang selanjutnya menjurus pada sesuatu kebenaran.

Ontologi juga merupakan salah satu kajian filsafat yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti ThalesPlato, dan Aristoteles . Pada masanya, kebanyakan orang belum membedaan antara  penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri).

Epistemologi

Kata epistemologi berasal dari bahasa Yunani klasik epistēmē yang berarti pengetahuan dan akhiran logi, yang berarti wacana (berasal dari kata yunani logos yang berarti “wacana”). J.F. Ferrier menciptakan epistemologi dalam model ontologi, untuk menetapkan bahwa epistemologi merupakan cabang filsafat yang bertujuan untuk menemukan makna dari pengetahuan, dan menyebutnya ‘awal yang sesungguhnya’ dari filsafat. Kata ini setara dengan konsep Wissenschaftslehre, yang digunakan oleh filsuf jerman Johann Fichte dan Bernard Bolzano untuk proyek-proyek yang berbeda sebelum digunakan kembali oleh Husserl. Para filsuf Prancis kemudian memberi istilah épistémologie makna yang sempit sebagai ‘teori pengetahuan [théorie de la connaissance].’ di antaranya, Émile Meyerson yang membuka karyanya Identitas dan Realitas, yang ditulis pada tahun 1908, dengan catatan bahwa kata kemenjadian setara dengan filsafat ilmu pengetahuan.

Epistemologi merupakan studi tentang pengetahuan, bagaimana mengetahui benda-benda. Pengetahuan ini berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: cara manusia memperoleh dan menangkap pengetahuan dan jenis-jenis pengetahuan. Menurut epistemologi, setiap pengetahuan manusia merupakan hasil dari pemeriksaan dan penyelidikan benda hingga akhirnya diketahui manusia. Dengan demikian epistemologi ini membahas sumber, proses, syarat, batas fasilitas, dan hakekat pengetahuan yang memberikan kepercayaan dan jaminan bagi guru bahwa ia memberikan kebenaran kepada murid-muridnya.

Aksiologi

Aksiologi adalah bidang yang menyelidiki nilai-nilai (value). Nilai dan implikasi aksiologi di dalam pendidikan ialah pendidikan yang menguji dan mengintegrasikan semua nilai (nilai tindakan moral, nilai ekspresi keindahan dan nilai kehidupan sosio-politik) di dalam kehidupan manusia dan membinanya ke dalam kepribadian anak. Pertanyaan yang berkaitan dengan aksiologi adalah apakah yang baik atau bagus? (Muhammad Noor Syam, 1986 dalam Jalaludin, 2007: 84). Dari ketiga teori kebenaran menurut pandangan filsafat yang telah diuraian di atas selanjutnya sebagai dasar untuk menganalisis persoalan manajemen pendidikan berbasis teori belajar sibernetik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *